Selasa, 14 Juni 2011

contoh proposal

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran disekolah dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan (pre-service education) maupun program dalam jabatan (inservice education) tidak semua guru yang di didik dilembaga pendidikan terlatih dengan baik. Potensi sumber daya guru itu perlu terus-menerus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara professional. Selain itu, pengaruh perubahan yang serba capat mendorong guru-guru untuk terus menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Itulah sebabnya ulasan mengenai perlunya supervisi pendidikan itu bertolak dari keyakinan dasar bahwa guru adalah suatu profesi. Suatu profesi selalu bertumbuh dan berkembang. Perkembangan profesi itu ditentukan oleh factor internal maupun factor eksternal. (Piet A. Sahertian, 2000 : 1)
Sering dijumpai adanya seorang supervisor dalam melaksanakan supervisi pengajaran hanya datang ke sekolah dengan membawa instrument pengukuran perfomansi guru. Kemudian masuk ke kelas melakukan pengukuran terhadap perfomansi guru yang sedang mengajar. Setelah selesai, selesailah sudah tugasnya, seakan-akan supervisi pengajaran sama dengan penilaian perfomansi mengajar guru. Padahal secara teoritik tidaklah demikian.
Perilaku supervisi pengajaran merupakan salah satu contoh perilaku supervisi pengajaran yang salah. Perilaku supervisi pengajaran yang demikian sama sekali tidak akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas performansi guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Seandainya memberikan pengaruh, pengaruhnya sangat kecil artinya bagi peningkatan kualitas permansi guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Supervisi pengajaran sama sekali bukan penilaian performansi guru. Apalagi apabila tujuan utama penilaiannya tersebut semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka. (Ibrahim Bafadal, 1992 : 2)
Tugas memimpin atau kemimpinan di sekolah dalam rangka melaksanakan dan membina serta mengembangkan kurikulum sekolah adalah menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Pekerjaan memimpin berlangsung dalam suatu proses kepemimpinan dalam suatu situasi tertentu. Dalam situasi tersebut berlansung proses saling mempengaruhi, atau terjadi persoalan influences antara kepala sekolah dan bawahannya (guru dan karyawan tata usaha). Melalui pengaruh yang ditimbulkan oleh pemimpin, maka bawahan diharapkan bergerak atau melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Proses mempengaruhi bawahan itu sendiri berjalan melalui suatu proses komunikasi dua pihak (antara pimpinan dan guru) yang melakukan secara lansung atau secara tidak langsung. Secara singkat dapat dirumuskan bahwa "kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang-orangn lain atau kelompok agar mereka berbaut untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan" berbagai cara dan usaha dapat dilakukan oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya, seperti persuasive, mempengaruhi, atau dengan kekerasan atau dengan menggunakan wewengan yang dimilikinya. Cara-cara ini sering digunakan oleh seorang pemimpin dalam usahanya mendorong motivasi bawahannya agar mereka berbuat atau bertindak kea rah tujuan yang diharapkan itu. Cara-cara demikian sering digunakan oleh seorang kepala sekolah didalam melaksanakan kepemimpiannnya dalam rangka melaksanakan kurikulum disekolahnya. (Oemar Hamalik, 1992 : 107)
Kepala sekolah harus memiliki visi dan misi, serta strategi manajemen pendidikan secara utuh dan beroreintasi kepada mutu. Strategi ini dikenal dengan manajemen mutu terpadu (MMT), strategi merupakan usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus menerus memperbaiki kualitas layanan, sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan dalam hal ini peserta didik, orang tua peserta didik, guru dan staf-staf yang lain. Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan oleh kepala sekolah agar siswa dan guru puas diantaranya :
1. Sesuai dengan yang dijanjikan (reliability)
2. Mampu menjamin kualitas pembelajaran (assurance)
3. Iklim sekolah yang kondusif (tangible)
4. Memberikan perhatian penuh kepada guru dan peserta didik (emphaty)
5. Cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik dan guru (respon-siveness) (E. Mulyasa, 2007 : 26)
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, seperti erat hubungannya antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolah iklim budaya sekolah, dan menurunya perilaku nakal peserta didik, kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran disekolah, jadi peran aktif kepala sekolah memang mendukung akan kelancaran siswa dan kedisiplinan guru yang tidak lain harus mematau dan memberi motivasi bagaimana siswa dan guru selalu menjaga kedisiplinan dan menjaga martabat sekolah. (E. Mulyasa, 2007 : 24)
Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan proses belajar mengajar yang efektif, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, pengelolaan kelas, penggunaan metoda mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru harus mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada peserta didik sehingga ia mau belajar karena memang peserta didiklah subjek utama dalam belajar.
Kompetensi Pedagogik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari empat kompetensi utama yang harus dimiliki seorang guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru saat melaksanakan profesinya. Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik. Selain itu kemampuan pedagogik juga ditunjukkan dalam membantu, membimbing dan memimpin peserta didik.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas maka peneliti dapat memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Adakah pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kompetensi paedagogiek guru di MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan
2. Seberapa besar kompetensi paedagogiek guru terhadap prestasi belajar siswa di MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai oleh sang penulis adalah :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kepala sekolah terhadap kompetensi paedagogiek guru di MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan.
2. Untuk mengetahui seberapa besar kompetensi peadagogiek guru terhadap prestasi belajar siswa MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan



D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan nilai manfaat khususnya bagi penulis dan pada umumnya bagi para pembaca yang budiman, dan juga dapat jadi bahan acuhan bagi penyusun proposal selanjutnya. Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
a. Kepala sekolah MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan sebagai bahan informasi dalam mengambil kebijakan khususnya dalam meningkatkan profesional guru dan mutu pendidikan.
b. Dewan guru selalu puas akan kinerjanya sehingga bisa di aplikasikan kepada siswa untuk menghasilkan pendidikan yang optimal.
c. Siswa MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan agar memiliki wawasan yang luas tentang pendidikan dan dapat dijadikan acuhan dikemudian hari.
d. Penulis bisa memahami seperti apa supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan guru, dan juga penulis mengetahui tentang supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah.

E. Lingkup Penelitian
Dalam judul skripsi ini terdapat dua variable dalam judul proposal ini, yaitu variable X dan variable Y. yang termasuk variable X adalah supervisi kepala sekolah dan variable Y adalah kompetensi peadagogiek guru
Sementara untuk variable X (supervisi kepala sekolah) indikator yang diteliti sebagai berikut :
1. Memberikan arahan dan motivasi
2. Controling atau pengawasan kepala sekolah
3. Evaluasi kepala sekolah
Sementara untuk variable Y (kompetensi peadagogiek guru) indikator yang diteliti sebagai berikut :
1. Merencanakan program pembelajaran
2. Menyusun program pelaksanaan pembelajaran

F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kekurang jelasan dalam menginterpretasikan judul proposal skripsi ini, maka terlebih dahulu penulis jelaskan kata kunci atau konsep pokok yang terdapat dalam judul ini sebagai berikut :
a. Supervisi kepala sekolah
Supervisi kepala sekolah terdiri dari dua kata supervisi dan kepala sekolah. Supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, temasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran. (Piet. A. Sahertian, 1981 : 18)
Kepala sekolah adalah sebagai pengelola dan eksekutif di sekolah menunjukkan dirinya sebagai seorang pelaksana teknis manajerial yang memiliki keterampilan-keterampilan untuk menjalankan sekolah. Kepala sebagai manajer bertugas sebagai pelaksana kurikulum, mengatur personil, fasilitas, keuangan, ketatausahaan sekolah, memelihara tata tertib serta hubungan sekolah dan masyarakat. (Rohiat, 2008 : 14)
Jadi supervisi kepala sekolah sangat mempengaruhi terhadap kinerja guru untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal, serta mendidik peserta didik dalam meningkatkan minat belajar.
b. Kompetensi Peadagogiek guru
Kompetensi Pedagogik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari empat kompetensi utama yang harus dimiliki seorang guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru saat melaksanakan profesinya. Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik. Selain itu kemampuan pedagogik juga ditunjukkan dalam membantu, membimbing dan memimpin peserta didik. (http://apadefinisinya.blogspot.com/2009/05/kegunaan-pedagogik-bagi-pendidik_18.html)

G. Landasan Teori
1. Tinjauan tentang supervisi
A. Pengertian supervisi pendidikan
Supervisi adalah suatu usaha menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru disekolah baik secara individu maupn secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Dengan demikian tiap murid secara kontinu serta mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern. (Piet A. Sahertian, 2000 : 17)
Menurut Wiles (1953 : 3) supervisi adalah supervision is a service activity that exixts to help teacher do their job better. Supervisor bekerja sama dengan guru-guru. Tugasnya adalah membantu guru dalam memecahkan masalah yang dihadapinya sehubungan dengan pelaksanaan tugasnya di kelas. Guru-guru itu pun akan berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaannya demi perkembangan jabatan dan karir masing-masing. Akhirnya bantuan yang diberikan supervisor kepala guru-guru bertujuan agar tercipta situasi belajar mengajar yang menyenangkan untuk mencapai hasil yang maksimal. (H. R. Soekarto Indrafachrudi : 87)
Secara morfologis Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas, pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
Secara sematik Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
Good Carter memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.
Boardman et. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern.
Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan (http://www.canboyz.co.cc/2010/05/pengertian-definisi-supervisi.html)
B. Tujuan supevisi pendidikan
Tujuan supervisi adalah untuk meningkatkan kemampuan professional guru dalam meningkatkan proses dan hasil belajar melalui pemberian bantuan yang terutama bercorak layanan professional kepada guru. Jika proses belajar meningkatkan, maka hasil belajar diharapkan juga meningkat, dengan demikian rangkaian usaha supervisi akan memperlancar pencapaian tujuan belajar mangajar (Burhanuddin, 1995 : 114)
Kata kunci dari supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru, maka tujuan supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru dikelas. Dengan demikian jelas bahwa tujuan sueprvisi ialah memberikan tlayanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningktaan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbiaki kemampuan mengajar tapi juga untuk pengembangan potensi kualitas guru pendapat ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Peter F. Olive bahwa sasaran supervisi pendidikan ialah :

a. Mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan disekolah
b. Meningkatan proses belajar mengajar di sekolah
c. Mengembangkan seluruh staf di sekolah (Piet A. Sahertian, 2000 : 19)

C. Prinsip supevisi pendidikan
Masalah yang dihadapai dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan ialah bagaimana acara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstuktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relsai dai mana guru-guru merasa aman dan merasa diterimma sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu seupervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fata yang objektif. Bila demikian maka prinsip supervisi yang dilaksanakan adalah :
1. Prinsip Ilmiah (Scientific)
Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar, untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data seperti angket, observasi, percakapan pribadi dan seterusnya. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis berencana dan kontinu.
2. Prinsip Demokratis
Servis dan bantuan yang dilakukan kepada guru berdasarkan hubungan kemanisiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan dan bawahan tapi berdasarkan rasa kesejawatan.
3. Prinsip Kerja sama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi sharing of idea, seharing of experience memberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.


4. Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi krativasas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan bukan melalui cara-cara menakutkan. (Piet A. Sahertian, 2000 : 19)
D. Fungsi supevisi pendidikan
Fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Seperti apa yang diungkapkan oleh Kimball Willes bahwa fungsi dsasar supervisi ialah memperbaiki situasi belajar mengajar dalam artian yang luas. Menurutnya situasi belajar mengajar di sekolah dapat diperbaiki bila supervisor dan atau pemimpin pendidikan memiliki lima keterampilan dasar. (Piet A. Sahertian, 2000 : 21)
E. Peranan supevisi pendidikan
Supevisi berfungsi membantu (assisting) memberi support (supporting) dan mengajak mengikutsertakan (sharing). Kimball Wiles, 1955. dilihat dari fungsinya, tampaknya sengan jelas peranan supevisi itu, peranan itu tampak dalam kinerja supervisor yang melaksanakan tugasnya. Mengenai peranan dapat dikemukan berbagai pendapat para ahli seorang supervisor dapat berperan sebagai :
1. Kordinator
Sebagai kordinator ia dapat mengkoordinasi program belajar-mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru. Contoh konkret mengkoordinasi tugas mengajar satu mata pelajaran yang dibina oleh berbagai guru
2. Konsultan
Sebagai konsultan ia dapat memberi bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.
Misalnya kesulitan dalam mengatasi anak yang sulit belajar, yang menyebabkan guru sendiri sulit mengatasi dalam tatap muka dikelas.

3. Pemimpin kelompok
Sebagai pemimpin kelompok ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan professional guru secara bersama. Sebagai pemimpin ia dapat mengembangkan keterampilan dan kiat-kiat dalam bekerja untuk kelompok (working for the group), bekerja dengan kelompok dan bekerja melalui kelompok.
4. Evaluator
sebagai evaluator ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan. Ia juga belajar menatap dirinya sendiri. Ia dibantuk dalam merefleksi dirinya, yaitu konsep diri (self concept) ide atau cita-cita dirinya (self idea), realitas dirinya (self reality) misalnya diakhir semester ia dapat mengadakan evaluasi diri sendiri dengan memperoleh umpan balik dari setiap peserta didik yang dapat dipakai sebagai bahan untuk memperbaiki dan meningkatkan dirinya. (Piet A. Sahertian, 2000 : 25)
2. Tinjauan tentang kepala sekolah
Pihak sekolah dalam menggapai visi dan misi pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Meskipun pengangkatan kepala sekolah tidak dilakukan secara sembarangan, bahkan diangkat dari guru yang sudah berpengalaman atau mungkin sudah lama menjabat sebagai wakil kepala sekolah, namun tidak dengan sendirinya membuat kepala sekolah menjadi professional dalam melakukan tugas. Berbagai kasus menunjukkan masih banyak kepala sekolah yang terpaku dengan urusan-urusan administrasi, yang sebenarnya bisa dilimpahkan kepada tenaga administrasi. Dalam pelaksanaannya, pekerjaan kepala sekolah merupakan pekerjaan berat, yang menuntut kemampuan ekstra.
Dinas Pendidikan telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaan sebagai educator, manajer, administrator dan supervisor (EMAS). Dalam perkembangan selanjutnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, innovator dan motivator disekolahnya. Dengan demikian dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader innovator, dan motivator (EMASLIM)
Perspektif kedepan mengisyaratkan bahwa kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai figure dan mediator, bagi perkembangan masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian pekerjaan kepala sekolah semakin hari semakin meningkat, dan akan selalu meningkatkan sesuai dengan perkembangan pendidikan yang diharapkan.
a. Kepala sekolah sebagai educator
Dalam melakukan fungsinya sebagai educator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program akselarasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. (E. Mulyasa, 2007 : 98)
b. Kepala sekolah sebagai manajer
Manager pada hakikatnya merupakan suatu proses merencanakan, pengorganisasian, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota organisasi seta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan suatu proses karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinnya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. (E. Mulyasa, 2007 : 103)
c. Kepala sekolah sebagai administrator
Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan perdukumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi perserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsipan dan mengelola admin istrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. (E. Mulyasa, 2007 : 107)
d. Kepala sekolah sebagai supervisor
Kegiatan utama pendidikan disekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
Jika supervisi dilakukan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. (E. Mulyasa, 2007 : 111)
e. Kepala sekolah sebagai leader
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas.
Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan, terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.
Kepribadian kepala sekolah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar. Emosi yang stabil dan teladan. (E. Mulyasa, 2007 : 115)
f. Kepala sekolah sebagai innovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif
Kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptable dan fleksibel. (E. Mulyasa, 2007 : 118)
g. Kepala sekolah sebagai motivator
Sebagai motivator kepala skolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasanan kerja, disiplin, dorongan, pernghargaan secara efektif, dan penyedian berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB). (E. Mulyasa, 2007 : 120)
3. Tinjauan tentang kompetensi peadagogiek guru
Kompetensi Guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi Guru tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.Kompetensi pedagogik yang dimaksud dalam tulisan ini yakni antara lain kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Pemahaman tentang peserta didik meliputi pemahaman tentang psikologi perkembangan anak. Sedangkan Pembelajaran yang mendidik meliputi kemampuan merancang pembelajaran, mengimplementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:
1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.
2. Pemahaman terhadap peserta didik
Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.
3. Pengembangan kurikulum/silabus
Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lingkungan sekolah.
4. Perancangan pembelajaran
Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memamfaatkan sumber daya yang ada. Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari skenario yang direncanakan.

5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.
6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Dalam menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media. Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.
7. Evaluasi hasil belajar
Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan dan solusi secara akurat.
8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya
Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini adalah dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas, berbasis pada perencanaan dan solusi atas masalah yang dihadapi anak dalam belajar. Sehingga hasil belajar anak dapat meningkat dan target perencanaan guru dapat tercapai. Pada prinsipnya, Kesemua aspek kompetensi paedagogik di atas senantiasa dapat ditingkatkan melalui pengembangan kajian masalah dan alternatife solusi. (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2098665-kompetensi-pedagogik-guru-indonesia/)
H. Asumsi dan Hipotesis
a. Asumsi
Sebelum penulis kemukakan rumusan asumsi dalam penelitian ini, kiranya dipandang perlu untuk mengetahui tentang pengertian asumsi. Hal ini disebabkan asumsi merupakan dasar berpijak bagi masalah yang sedang diteliti dan dalam merumuskan hipotesis.
Menurut Winarno Sunarno (Arikunto, 1991 : 55), asumsi diartikan sebagai sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.
Dengan berpijak pada pengertian diatas, maka penulis dapat mengemukakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Supervisi kepala sekolah sangat mempengaruhi untuk memberikan arahan dan motivasi
b. Kepala sekolah merupakan controlling atau pengawasan dalam meningkatkan mutu pendidikan
c. Kompetensi peadagogiek guru adalah salah satu untuk menciptakan peserta didik yang optimal
b. Hipotesis
Sebelum penulis kemukakan rumusan hipotesa dalam penelitian ini, terlebih dahulu penulis uraikan tentang pengertian hipotesa dibawah ini.
Hipotesis adalah jawaban sementara yang kebenarannya butuh dibuktikan kembali melalui penelitian. Menurut Nasution (1996 : 39), hipotesis adalah pernyataan tentative yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.
Arikunto menjelaskan hipotesa berasal dari dua kata, "hypo" yang artinya dibawah dan "thesa" yang artinya kebenaran, hipotesa yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi "hipotesa" dan berkembang menjadi hipotesis, diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Arikunto, 2002 : 64)
Berdasarkan hipotesa diatas, maka rumusan hipotesa yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Ada pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kompetensi peadagogiek guru di MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan.
b. Kompetensi peadagogiek guru pengaruh terhadap prestasi belajar siswa di MI. Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan?

I. Metode Penelitian
a. Desain Penelitian
Untuk mencapai kebenaran secara sistematis dalam menggunakan metode ilmiyah, butuh suatu desain atau rancangan penelitian yang merupakan tahapan proses yang diperlukan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian.
Secara umum, desain penelitian ada dua macam, penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, Serta penampilan dari hasilnya. Demikian juga pemahaman akan kesimpulan akan lebih baik apabila juga disertai dengan tabel, grafik, bagan, gambar atau tampilan lain. (Suharsimi Arikunto, 2006:12).
Titik tolak penelitian bertumpu pada minat untuk mengetahui masalah atau fenomena yang timbul karena berbagai rangsangan, dan bukannya pada metode penelitian. Sekalipun demikian, tetap harus diingat bahwa metodologi penelitian merupakan elemen penting untuk menjaga reabilitas dan validitas hasil penelitian.
Suharsimi Arikunto dalam Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, mendefinisikan metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Suharsimi Arikunto, 2006:136).
b. Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kueseoner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan- pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan. (Suharsimi Arikunto: 2002: 107)
Sehubungan dengan sumber data yang dijadikan sebagai subjek penelitian, maka subjek tersebut bisa diambil secara keseluruhan (Populasi) atau sebagian (Sampel) saja.
a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan populasi. (Suharsimi Arikunto:2002:108)
Berdasarkan pengertian populasi di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa MI Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan Sebanyak 292 siswa dengan perincian sebagai berikut:
Kelas I : Sebanyak 54 siswa
Kelas II : Sebanyak 37 siswa
Kelas III : Sebanyak 56 siswa
Kelas IV : Sebanyak 28 siswa
Kelas V : Sebanyak 38 siswa
Kelas VI : Sebanyak 51 siswa
Jumlah : 292 Siswa
b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kamu bemaksud untuk menggeneralisasi hasil penelitian sampel. (Suharsimi Arikunto:2002:109)
Maka sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari siswa Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan tahun pelajaran 2010-2011.
Sehubungan dengan sampel ini peneliti menetapkan besar kecilnya sample sekalipun tidak ada patokan yang mutlak, akan tetapi sekedar ancer-ancer. Hal ini telah diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik sebagai berikut:
Untuk sekadar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua. Sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:
a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang lebih resikonya besar, tentu saja jika sample besar, hasilnya akan lebih baik. (Suharsimi Arikunto2006:134).

Adapun sampel dalam penelitian ini, maka peneliti mengambil sebanyak 38 siswa atau 25% dari jumlah populasi dengan perincian sebagai berikut:
Kelas II : Sebanyak 8 siswa
Kelas III : Sebanyak 7 siswa
Kelas IV : Sebanyak 7 siswa
Kelas V : Sebanyak 8 siswa
Kelas VI : Sebanyak 8 siswa

c. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. (Suharsimi Arikunto, 2006:151)
2. Observasi
Seringkali observasi diartikan sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Namun menurut Suharsimi Arikunto dalam prosedur penelitian suatu pendekatan praktik, di dalam pengertian psikologik, Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. (Suharsimi Arikunto,2006:156).
Metode observasi dalam penelitian ini digunakan sebagai metode pelengkap atau penunjang. Sedangkan bentuk observasi yang digunakan adalah observasi sistematis, dimana pedoman observasi telah dipersipkan sebelumnya. Kemudian data yang ingin dikumpulkan dari penggunaan metode observasi antara lain adalah:
1. Kondisi MI Mambaul Ulum Bata-Bata Panaan Palengaan Pamekasan.
2. Kegiatan Pembelajaran
3. Interaksi kepala sekolah dan para guru serta siswa
4. Aktivitas belajar siswa
5. Kedisiplinan belajar siswa
6. Penguasaan materi oleh guru
7. Persiapan mengajar guru
Dalam penelitian ini penulis menggunakan observasi non partisipan dimana observasi hanya berperan sebagai pengamat saja tanpa ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam pembinaannya.
3. Interview
Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuisioner lisan, adalah Sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (interviwer) untuk memperoleh informasi dari terwawacara. (Suharsimi Arikunto,2006:155).
Adapun tekhnik-tekhnik interviu yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview terpimpin (guided interview), yaitu interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci sebagai pedoman wawancara.
4. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Maka yang dimaksud dengan dokumentasi adalah penelitian yang bersumber pada tulisan seperti buku-buku, majalah, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. (Suharsimi Arikunto, 2006: 158).
Berdasarkan kutipan di atas, dokumentasi adalah pengumpulan data dengan memggunakan catatan, gambar dan lain sebagainya. Dengan kata lain metode dukumentasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mengambil atau mencatat bukti-bukti tertulis atau catatan-catatan dari peristiwa pentung yang telah ada, dan biasanya dukumentasi ini disajikan secara sistematis sehingga mudah dibaca dan dipahami maksudnya.
d. Metode Analisis Data
Metode analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan.
Adapun metode analisa data yang dipergunakan untuk menganalisa data hasil angket adalah metode analisa statistik korelasi produk moment.
Alasan digunakan metode analisa staitistik korelasi product moment adalah sebagai berikut:
 Cocok untuk digunakan pada data yang bervariabel
 Data yang diperoleh bersifat interval
 Data yang diperoleh bersifat lurus
Sementara rumus korelasi product moment yang digunakan adalah:




Keterangan:
r XY = Koefisien korelasi product moment.
∑xy = Jumlah dari hasil kali x dan y kecil
∑x² = Jumlah skor x kecil yang dikuadratkan.
∑y² = Jumlah skor y kecil yang dikuadratkan

DAFTAR PUSTAKA
o Arikunto, Suharsimin, Prof. Dr, Peningkatan Profesional Guru Sekolah Dasar, Rineka Cipta. Jakarta : 1991
o Bafadal Ibrahim, M.Pd, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru, Bumi Aksara, Jakarta : 1992
o Burhanuddin, Drs. M.Ed. Profesi Keguruan, PT. Ikip Malang : 1995
o Dr. E. Mulyasa, M.Pd, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, PT. Remaja Rosdakarya Offset. Bandung : 2007
o Dr. Rohiat, M.Pd, Kecerdasan Emosional Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Refika Aditama, Bandung : 2008.
o M. Dahlan Al-Barry. Kamus Ilmiah Populer, PT. Arkola Surabaya : 1994.
o Soekarto Indrafachrudi, Drs. H. R. Bagaimana Pemimpin Sekolah Yang Efektif, PT. Ghalia Indonesia, Bogor : 2006
o Nasution, Dr. Prof, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta : 1992
o Oemar Hamalik, Dr. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum, PT. Mandar Maju, Bandung : 1992.
o Sahertian Piet A, Prof. Drs, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, PT. Rineka Cipta, Jakarta : 2000

Jumat, 10 Juni 2011

Akbar Ali yang gagah itu memelukku erat dan berbisik, “Senang memiliki
keponakan seperti dirimu. Aisha sudah banyak bercerita tentangmu padaku.
Selamat datang di keluarga besar Ali Faroughi.”
Di ruang tamu itu kami berbincang-bincang sambil menunggu Aisha yang
sedang berdandan. Akbar Ali menceritakan silsilah keluarga besarnya agar aku
tahu jelasnya. Ali Faroughi ayahnya dan juga kakek Aisha adalah asli Turki.
Beliau lahir di kota Izmir dari keluarga pedagang kain. Lulus sekolah menengah
langsung diminta ayahnya merantau ke Istambul dan membuka toko kain di sana.
Beliau menuruti anjuran ayahnya. Bakat bisnisnya luar biasa besar. Tokonya maju
pesat sampai akhirnya bisa membuat pabrik tekstil kecil-kecilan. Akhir tahun
1948 beliau menikah di Yordan dengan seorang gadis pengungsi Palestina
sebatang kara yang seluruh keluarganya telah tewas dibantai Israel dan harta
kekayaannya juga dirampas. Gadis Palestina itu beliau bawa ke Istanbul. Enam
tahun kemudian, yaitu tahun 1954, lahirlah anak mereka yang pertama diberi
nama Alia Ali Faroughi. Alia itulah ibu kandung Aisha. Empat tahun kemudian
lahirlah Akbar Ali Faroughi dan jauh setelah itu, lima belas tahun kemudian baru
lahir Sarah Ali Faroughi yang sekarang menikah dengan Eqbal Hakan Erbakan.
Ali Faroughi adalah pengikut setia Al-Imam Asy-Syaikh Al-Mujaddid Badiuz
Zaman Sa’id An-Nursi. Ali Faroughi wafat pada tahun 1993 pada usia 73 tahun,
meninggalkan tiga buah perusahaan besar. Di antara ketiga anaknya itu yang
paling cerdas dan ulet adalah Alia. Dia selalu terbaik di sekolah menengah. Dia
dokter terbaik lulusan Istanbul University tahun 1976 dan langsung mendapat
beasiswa ke Jerman tahun itu juga. Di Jerman Alia mengambil spesialis jantung.
Setelah tiga tahun di Jerman ia menikah dengan seorang muallaf Jerman namanya
Rudolf Greimas, seorang pemilik swalayan. Tahun 1981 Aisha lahir. Dan tahun
1982 Alia memperoleh gelar doktornya dengan predikat summa cumlaude dan
mengambil keputusan untuk tinggal dan bekerja di Jerman. Yang menyedihkan
tujuh tahun yang lalu, Alia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di sebuah
jalur cepat yang berada pinggir kota Munchen, meninggalkan Aisha yang masih
belia. Aku baru tahu sebenarnya Aisha telah lama kehilangan seorang ibu.
Kira-kira setengah jam sebelum azan ashar berkumandang, Sarah Ali
Faroughi, memberi tahu semuanya telah siap. Aku minta tolong pada Eqbal agar

Ikatan Suci

Apa yang terjadi antara diriku dan Nurul adalah tragedi yang sangat
memilukan. Aku tak memungkiri, di dalam taksi selama perjalanan menuju rumah
Eqbal Hakan Erbakan, hatiku menangis. Aku ini siapa? Nurul sungguh terlalu.
Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai
dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala
apalagi mengutarakan cinta pada seorang puteri kiai. Dia sungguh terlalu
menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan
tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun
mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu
menit. Atau kalau malu hanya dengan beberapa baris tulisan tangannya tragedi ini
tidak akan terjadi. Menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu
perbuatan tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tidak keliru. Dia telah menempuh
jalan yang benar. Dia benar-benar gadis shalihah yang pemalu. Yang terlalu
sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mereka berdua
sungguh terlalu. Atau justru aku yang terlalu dan begitu dungu.
rinai tangis dalam hatiku
bagai rintik hujan di kota
apa gerangan makna lesu
yang menyusup masuk kalbuku?94
Sampai di halaman rumah Eqbal aku melihat tiga mobil mewah berjajar.
Rumahnya ada di lantai tiga sebuah villa mewah tak jauh dari KFC Maadi.
Sebelum masuk kuhapus air mata, kutata hati dan jiwa. Aku berusaha tersenyum.
Aku disambut hangat oleh Eqbal dan tiga lelaki Turki. Rumahnya tidak terlalu
ramai. Eqbal memperkenalkan tiga lelaki Turki yang berpakaian rapi itu.
“Ini Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir, ini
sekjennya Ali Naar, sedangkan ini yang baru tiba dari Turki tadi pagi adalah calon
pamanmu Akbar Ali Faroughi, adik kandung ibunya Aisha.”
94